Selasa, 01 Oktober 2013

Belut Penyambung Hidup

“Urip niku nyadar, nrimo, ampun gresulo, pedamelane halal sanes jupuk colong” (hidup itu sadar, menerima apa adanya, tak boleh mengeluh. Pekerjaan yang penting halal, bukan mencuri)

Kata kata itulah yang senantiasa mampu menguatkan seorang lelaki paruh baya yang sedari tadi siap bergegas pulang. Ia mengemasi dua dirigen dan membersihkan kotoran-kotoran. Kali ini , ia bertopi putih, berkaos putih dan bercelana jeans yang nampak mulai kusam. Apa yang dikenakan, seakan tak ada yang bisa dibanggakan. Bapak 50 tahun ini memang sehari-hari mengais rupiah di bawah rimbunan bambu.

Bardiman nama lengkapnnya. Bapak dua anak ini adalah warga Kentheng, Madurejo, Prambanan, Sleman. Kesehariannya berjualan belut di tepi jalan Madurejo-Kalasan. Sudah sejak lama hampir lima tahun. Belut, hewan sebangsa ikan yang lebih mirip dengan ular menjadi tumpuan hidup bagi Bardiman sekeluarga.

Photo: Iwan
Selesai Berjualan: Bardiman sehari-hari berjualan dengan sepeda kesayangannya yang dibelinya tahun 80-an seharga 100 ribu

Mungkin banyak orang yang geli bahkan jijik, mungkin di luar sanajuga  masih ada yang beranggapan belut tak punya gizi.  Namun tidak untuk lelaki yang sedari dulu tak sekalipun mengenyam bangku sekolah ini. “Belut itu banyak proteinnya, bagus kalau dimakan, banyak gizi” tangkasnya.

Sehari-hari, Bardiman mengambil belut dari pengepul. Sedari rumah, ia selalu berharap belut senantiasa tersedia untuknya. Pasalnya akhir-akhir ini belut semakin lama semakin menghilang, padahal musim hujan belum berlalu. Praktis jika belut ada, senyum merekah dari balik bibirnya. Berarti hari itu bisa jualan. Berarti besok bisa berharap bisa membeli beras untuk istri tercinta dan dua buah hatinya. Namun jika tak menyambagi belut, bersiaplah tak jualan, tak ada pemasukan harian. Menyusun pikiran bagaimana besok keluarganya makan, bagaimana bisa menghutang tatangga.

Mungkin tak banyak orang yang berprofesi seperti Bardiman. Hasil yang tak seberapa dan bahan baku yang tak selalu ada adalah kendala mendasar. Tapi mau apa lagi, selepas menjadi kuli bangunan yang digelutinya selama lebih dari 30 tahun, badannya seakan tak kuat lagi memikul tumpukan batu dan gunungan pasir. Maklum Bardiman sudah menginjak usia kepala lima. Praktis berjualan belut merupakan solusi terbaik di tengah kehidupan yang serba sulit.

Sebenarnya, berjualan belut bukanlah pekerjaan syarat profit. Hanya orang nrimo, ikhlas dan tak gresulo yang selalu didengung-dengungkanlah yang mampu bertahan. Seperti hari ini, Bardiman hanya menjual empat kg belut. Padahal per kilo hanya mengambil untung 2 ribu rupiah. Jauh dari kata “untung besar”. Bila uang yang dihasilkan dihgunakan untuk membeli BBM (Bahan Bakar Minyak), ternyata tak sebanding dengan harga 1 liter pertamax. Hanya bisikan hati nurani yang mampu menahan beban hidup diri dan keluarganya.

Belut..belut..belut.. hewan yang susah ditangkap dan suka sekali dengan lumpur. Teramat berharga bagi Bardiman. Benar-benar ibarat sebuah nyawa, jika belut dari pengepul tersedia berarti dirinya berjualan. Sebaliknya jika tak ada belut, bersiap tak punya penghasilan. Tanpa belut, sandarannya hanyalah kata-kata bijak penguat hati. Hidup nrimo, tanpo gresulo.

Lima tahun terakhir, belut semakin lama seperti semakin menghilang saja. Karuan, tak bisa dilepaskan oleh ulah para elite. Pembangunan gedung yang semakin menggila, menjadikan belut kehilangan rumah-rumahnya. Jika pemerintah tak tanggap, lambat laun tamatlah pekerjaan Bardiman dan kawan seprofesinya. Pada akhirnya, tanda- tanda angka kemiskinan akan semakin bertambah.

 Stop pembangunan, biarkan sawah menghampar, maka Bardiman akan selalu tersenyum.

Ikhwanudin/ Mahasiswa UMBY

2 komentar :

  1. great feature!

    untuk selanjutnya, (saran) ada baiknya blog ini difokuskan pada satu hal.
    dapat berisi kisah-kisah inspiratif, features kemanusiaan, atau yang lain. bagi dalam sejumlah kategori agar tak bisa dan melenceng dari tujuan anda.

    salam.

    BalasHapus