Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Agustus 2014

Puisi Isi Hati
oleh seorang akhwat

Suatu saat…
Tulang rusuk ini akan menemukan
rongga dada yang memerlukan
perlindungannya
Suatu saat…
Kerang yang sakit ini akan
mempersembahkan
mutiara paling berharga untuk sang
penyelam hebat
Suatu saat…
Mata air kerinduan ini akan menjadi
penyejuk dahaga siswa pengembara
yang lelah mencari
Suatu saat…
Kapal yang telah lama berlayar ini
akan berlabuh
di pelabuhan yang selalu menanti
dengan sabar
Suatu saat…
Bibit ini akan tumbuh menjadi
pohon rindang
peneduh jiwa yang terus berharap
Suatu saat…
Bunga ini akan mekar dan tebarkan
harumnya
pesonanya terbitkan senyum mata
yang memandang
Dan suatu saat…
Semua akan menjadi indah
dalam perencanaan Yang Maha
Sempurna
Yakni Allah azza wa jalla

Jumat, 20 Juni 2014

Experience is The Best Teacher


I had an experience that was unforgettable along of life. Even it brought regret in my self. It happened when i was on first class of senior high school in 2003. My mother had a hard illness. A complication illness that caused she got stroke. Her body was half distinguished, couldn’t talk, and just lie down in a bed.

Times by times passed, our family was back and forth  to hospital. They looked for medicine but she did not get a health. Even, her body was more thinner becaue of less eating she was difficult to eat.

As a second son, i helped my father to carry and took care my mother. But, one day i stayed in the lowest point of my own mental. I complained, " I am tired". Unsuitable words to be said from a son to his parent. The words that i most wished to be pulled but i couldn't. I was ashamed. I wish that I had not made so many complaints in my life history, but it was excessive.

Next several month, when my mother had agony of death, we surrounded, guided a syahadat sentence for her and i also made an apology from my deepest heart. I hoped she understood and forgave me. Although she couldn’t speak to us. After that , my mother left us forever.

I made a mistake because i complained and said " I am tired" when caring my mom. But, it was born a faith and spirit in my self: “Don’t repeat the same mistake again” particularly for kind people arround us. The more important thing is: Experience is the best teacher. I wish God forgive my mistake. I love mom.

(waniwan)


Sabtu, 07 Desember 2013

Sementara itu memabukkan

http://arimbibimoseno.com/tag/berserah-diri/

Hidup di dunia hanya semntara, akan tetapi apakah yang semntara itu dibiarkan melintas tanpa makna?
malah, yang sementara itu mmbuat orang terlena, terpana hingga terobesi
sementara itu tak selamanya sedang yang dikira selamanya itu sebenarnya adalah sementara

hidup hidup dan hidup
cobaan cobaan dan cobaan
itu lah yang sering kita bahas, bahkan kita keluhkan
seakan melupakan nikmat, nikmat dan nikmat
anugerah anugerah dan keselamatan

Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang hingga sseorang itu merubahnya sendiri
bisa dimaknai Tuhan memberikan bekal awal pada manusia adalah sebuah kenikmatan
tapi terkadang manusia tak pandai bersyukur
hingga tangan-tangan jahil dirinya lah yang merusak nikmat-NYa

kenikmatan harus disyukuri sehingga menjadi berkah selamanya
kemaksiatan harus segera diperbaiki shingga hanyalah sementara
selamanya dan sementara tak bisa digabung
sama halnya kebaikan dan kemaksiatan yang tidak bisa disatukan

akhirnya, Yang sementara akan memilih dunia
sedang yang selamanya akan memihak akhirat
tapi jika dan hanya jika ingin selamat dari yang sementara dan selamanya
Iman jawabannya

Iman adalah keselamatan...

(Ikhwanudin / Mercubuana 2013)

Selasa, 01 Oktober 2013

Belut Penyambung Hidup

“Urip niku nyadar, nrimo, ampun gresulo, pedamelane halal sanes jupuk colong” (hidup itu sadar, menerima apa adanya, tak boleh mengeluh. Pekerjaan yang penting halal, bukan mencuri)

Kata kata itulah yang senantiasa mampu menguatkan seorang lelaki paruh baya yang sedari tadi siap bergegas pulang. Ia mengemasi dua dirigen dan membersihkan kotoran-kotoran. Kali ini , ia bertopi putih, berkaos putih dan bercelana jeans yang nampak mulai kusam. Apa yang dikenakan, seakan tak ada yang bisa dibanggakan. Bapak 50 tahun ini memang sehari-hari mengais rupiah di bawah rimbunan bambu.

Bardiman nama lengkapnnya. Bapak dua anak ini adalah warga Kentheng, Madurejo, Prambanan, Sleman. Kesehariannya berjualan belut di tepi jalan Madurejo-Kalasan. Sudah sejak lama hampir lima tahun. Belut, hewan sebangsa ikan yang lebih mirip dengan ular menjadi tumpuan hidup bagi Bardiman sekeluarga.

Photo: Iwan
Selesai Berjualan: Bardiman sehari-hari berjualan dengan sepeda kesayangannya yang dibelinya tahun 80-an seharga 100 ribu

Mungkin banyak orang yang geli bahkan jijik, mungkin di luar sanajuga  masih ada yang beranggapan belut tak punya gizi.  Namun tidak untuk lelaki yang sedari dulu tak sekalipun mengenyam bangku sekolah ini. “Belut itu banyak proteinnya, bagus kalau dimakan, banyak gizi” tangkasnya.

Sehari-hari, Bardiman mengambil belut dari pengepul. Sedari rumah, ia selalu berharap belut senantiasa tersedia untuknya. Pasalnya akhir-akhir ini belut semakin lama semakin menghilang, padahal musim hujan belum berlalu. Praktis jika belut ada, senyum merekah dari balik bibirnya. Berarti hari itu bisa jualan. Berarti besok bisa berharap bisa membeli beras untuk istri tercinta dan dua buah hatinya. Namun jika tak menyambagi belut, bersiaplah tak jualan, tak ada pemasukan harian. Menyusun pikiran bagaimana besok keluarganya makan, bagaimana bisa menghutang tatangga.

Mungkin tak banyak orang yang berprofesi seperti Bardiman. Hasil yang tak seberapa dan bahan baku yang tak selalu ada adalah kendala mendasar. Tapi mau apa lagi, selepas menjadi kuli bangunan yang digelutinya selama lebih dari 30 tahun, badannya seakan tak kuat lagi memikul tumpukan batu dan gunungan pasir. Maklum Bardiman sudah menginjak usia kepala lima. Praktis berjualan belut merupakan solusi terbaik di tengah kehidupan yang serba sulit.

Sebenarnya, berjualan belut bukanlah pekerjaan syarat profit. Hanya orang nrimo, ikhlas dan tak gresulo yang selalu didengung-dengungkanlah yang mampu bertahan. Seperti hari ini, Bardiman hanya menjual empat kg belut. Padahal per kilo hanya mengambil untung 2 ribu rupiah. Jauh dari kata “untung besar”. Bila uang yang dihasilkan dihgunakan untuk membeli BBM (Bahan Bakar Minyak), ternyata tak sebanding dengan harga 1 liter pertamax. Hanya bisikan hati nurani yang mampu menahan beban hidup diri dan keluarganya.

Belut..belut..belut.. hewan yang susah ditangkap dan suka sekali dengan lumpur. Teramat berharga bagi Bardiman. Benar-benar ibarat sebuah nyawa, jika belut dari pengepul tersedia berarti dirinya berjualan. Sebaliknya jika tak ada belut, bersiap tak punya penghasilan. Tanpa belut, sandarannya hanyalah kata-kata bijak penguat hati. Hidup nrimo, tanpo gresulo.

Lima tahun terakhir, belut semakin lama seperti semakin menghilang saja. Karuan, tak bisa dilepaskan oleh ulah para elite. Pembangunan gedung yang semakin menggila, menjadikan belut kehilangan rumah-rumahnya. Jika pemerintah tak tanggap, lambat laun tamatlah pekerjaan Bardiman dan kawan seprofesinya. Pada akhirnya, tanda- tanda angka kemiskinan akan semakin bertambah.

 Stop pembangunan, biarkan sawah menghampar, maka Bardiman akan selalu tersenyum.

Ikhwanudin/ Mahasiswa UMBY