Tampilkan postingan dengan label Home. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Home. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Januari 2014

Ribuan Warga Antusias Saksikan Upacara Grebeg Maulud

Yogya - Ribuan orang tampak memadati pelataran Keraton Yogyakarta, Alun-alun utara hingga Pasar Beringharjo, Selasa (14/1). Warga yang datang dari dalam dan luar DIY tersebut sangat antusias menyaksikan upacara Grebek Maulud yang digelar rutin dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Salah satu gunugan yang di arak oleh prajurit Kraton Yogyakarta pada acara Grebeg Maulud (14/1)

Seperti tahun sebelumnya, Kraton Ngayogyakarta mengarak tujuh gunungan yang dibawa ke tiga tempat berbeda untuk dibagi-bagikan kepada warga, yakni: Masjid Gede Kauman, Pura Paku Alaman, dan kompleks kepatihan Yogyakarta. Gunungan-gunungan yang berisi aneka hasil bumi seperti buah-buahan dan sayur mayor tersebut merupakan simbol sedekah  Raja kepada rakyatnya.

Fani, seorang mahasiswi dari kampus YKPN selalu menyempatkan diri datang bersama keluarga guna menyaksikan upacara Grebeg Maulud. Ia mengaku bangga terhadap Kraton Yogyakarta karena berhasil menggelar acara ini tiap tahunnya.  “Inilah istimewanya DIY, oleh karenanya budaya ini harus dipertahankan” imbuhnya.


(Ikhwanudin/Mercubuana/12072045)

Gambar lain:
Pasukan gajah

Lautan manusia
Video terkait:

Kamis, 31 Oktober 2013

Mesin Canggih ‘mbah Google’



Siapa yang tidak mengenal kata ‘google’. Hampir bisa dipastikan siapa yang mengenal internet maka tak asing dengan kata tersebut. Begitu istimewanya, maka ‘google’ sang mesin pencari dijadikan rujukan pertama ketika browsing. Sangat familiar terhadapnya, sehingga kita sering menjulukinya ‘mbah google’. Secara adat Jawa, kata ‘mbah’ berarti eyang. Secara filosofi begitu dihormati, tempat rujukan, syarat pengalaman.
Hal yang lumrah jika orang menyebut ‘mbah google’. Sebagai orang ‘awam’ yang berinternet, amat terbantu dengan kehadirannya. Berpedoman dengan kata kuncinya saja tanpa perlu mengingat alamat webnya, maka bisa langsung diketikkan dan hasilnya situs-situs yang berkaitan dengan kata kunci tadi. Mungkin situs yang muncul bisa puluhan bahkan ratusan.
Melalui ‘mbah google’ inilah, penulis bisa mengunjungi situs favorit tentang dunia bola. Ada beberapa situs yang sering dikunjungi, salah satunya www.bolanews.com. Di situ lah penulis berelancar di dunia maya, menggali informasi tentang jagat bola. Bisa update berita tentang piala dunia, liga champion, atau liga Italia. Tak ketinggalan timnas Indonesia yang baru saja merebut piala AFF U-19. Maju terus Garuda Muda..!!!
Mengapa penulis lebih sering menggunakan ‘mbah google’?. Memang masih ada mesin pencari lain macam yahoo, ask, AOL search, funmoods, akan tetapi aspek kemudahan lah yang mendasarinya. Di komputer manapun atau di warnet mana saja kita lebih mudah menjumpai mesin pencari ‘mbah google’ dari pada yang lain. Selain itu, setali tiga uang: memang sedari awal, penulis berkenalan internet sekaligus berkenalan juga dengan ‘mbah google’.
(Iwan/UMBY)


Sabtu, 19 Oktober 2013

Sisi Unggul Jurnalisme Online Adalah Kecepatan

Era sekarang adalah era online. Perkembangan teknologi informasi internet diiringi kemunculan media online. Media ini semakin lama semakin menjamur selaras dengan penggunanya. Di Indonesia pengguna media online meningkat drastis sejak tahun 2012. Di tahun ini jumlah pengguna mencapai 63 juta orang. Sangat besar apabila dibandingkan dengan tahun 2000 yang hanya 2 juta orang (http://media.kompasiana.com/new-media).
Arus informasi tak hanya dikuasai oleh penguasa-penguasa media papan atas, nyatanya masyarakat biasa pun bisa andil menawarkan informasi yang aktual dan bisa dipercaya. Kegiatan inilah yang dinamakan jurnalisme warga. Biasanya masyarakat seperti ini berbagi dalam laman khusus dari media online atau situs pribadi macam blog, wordpress atau melalui media sosial.

Salah satu contoh jurnalisme warga bisa dicontohkan seperti yang ditulis: http://mrfelippe.blogspot.com. Ia langsung memberitakan terjadi gempa di Tasikmalaya, padahal berita ditulis jam 01.00 dini hari. Kecepatan adalah alasan mengapa saluran ini dipilih masyarakat. Hal ini juga merupakan keunggulan dari media konvensional yang sudah ada. Karena dalam hitungan detik saja informasi sudah bisa ter update.  (iwan)

Selasa, 08 Oktober 2013

Logika Waktu Pendek Manusia

Era hidup masa kini adalah era masyarakat modern yang dinamis. Arus informasi menjadi kebutuhan pokok yang harus dinikmati setiap hari, bahkan bisa dalam hitungan detik.  Informasi yang datang dari berbagai sumber dan dari berbagai belahan dunia dapat dipantau  hanya melalui layar monitor. Tentu ini berkat kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat. Hasil teknologi semacam internet berdampak luar biasa terhadap pola kehidupan manusia.

Dunia online memang telah menjadi kebutuhan masyarakat. Jika lebih ditelisik, kata “online” yang tidak asing lagi di telinga secarah harfiah berarti “keadaan konektivitas (ketersambungan) pada internet atau world wide web (www)”. Sehingga bisa disimpulkan bahwa berbicara tentang “online” berarti bicara tentang internet.

Banyak dimensi yang bisa ditelisik dari dunia internet. Banyak hal yang baik atau positif, namun pasti ada yang negatif. Yang paling penulis soroti adalah berubahnya pola pikir manusia. Manusia (baca: masyarakat) tidak bisa dipungkiri menjadi berpikir instan atau disebut juga berlogika waktu pendek. Manusia dalam segala hal berpatokan pada kecepatan, sehingga berhasrat mencapainya. Misalnya: media yang memberitakan paling cepat dalam suatu kasus adalah yang paling baik, berbelanja melalui internet yang mudah karena tak menyita banyak ruang, bersosial media dan lain sebagainya.

Imbas dari pola pikir waktu pendek, manusia semakin terkikis rasa menghormati dan menghargai. Apalagi mereka mulai menanggalkan sebuah proses dan berpaling pada hasil semata. Sungguh hal ini perlu dicegah atau “disembuhkan” dengan cara memberikan pengertian secara luas kepada masyarakat tentang positif dan negatif dari perkembangan teknologi internet.


Ikhwanudin/ 12072045/UMBY