OUTBOUND SMA 6 Yogyakarta (23/2/2014)
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Senin, 24 Februari 2014
Selasa, 14 Januari 2014
Ribuan
Warga Antusias Saksikan Upacara Grebeg Maulud
Yogya - Ribuan orang tampak
memadati pelataran Keraton Yogyakarta, Alun-alun utara hingga Pasar
Beringharjo, Selasa (14/1). Warga yang datang dari dalam dan luar DIY tersebut
sangat antusias menyaksikan upacara Grebek Maulud yang digelar rutin dalam
rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Salah satu gunugan yang di arak oleh prajurit Kraton Yogyakarta pada acara Grebeg Maulud (14/1)
Seperti tahun
sebelumnya, Kraton Ngayogyakarta mengarak tujuh gunungan yang dibawa ke tiga
tempat berbeda untuk dibagi-bagikan kepada warga, yakni: Masjid Gede Kauman,
Pura Paku Alaman, dan kompleks kepatihan Yogyakarta. Gunungan-gunungan yang
berisi aneka hasil bumi seperti buah-buahan dan sayur mayor tersebut merupakan simbol
sedekah Raja kepada rakyatnya.
Fani, seorang mahasiswi
dari kampus YKPN selalu menyempatkan diri datang bersama keluarga guna
menyaksikan upacara Grebeg Maulud. Ia mengaku bangga terhadap Kraton Yogyakarta
karena berhasil menggelar acara ini tiap tahunnya. “Inilah istimewanya DIY, oleh karenanya budaya
ini harus dipertahankan” imbuhnya.
(Ikhwanudin/Mercubuana/12072045)
Gambar lain:
Pasukan gajah
Lautan manusia
Video terkait:
Senin, 13 Januari 2014
Telur
Merah, Oleh-oleh khas Grebeg Maulud
Yogya – Upacara Grebeg
Maulud pada Selasa (14/1) siang, yang disaksikan oleh ribuan warga dari dalam
dan luar DIY membawa berkah bagi penjual Telur Merah. Jajanan khas Jogja ini
laris manis diburu wisatawan untuk dijadikah oleh-oleh.
Telur Merah pada upacara Grebeg Maulud (14/1) diburu wisatawan. Jajanan ini merupakan panganan khas yang melambangkan kesejahteraan
Mbah Wardi, salah satu
pedagang Telur Merah mengaku senang karena dagangannya laku keras. Ia bersama
anaknya, datang dari kampung Niten, Kasongan rutin menggelar dagangan di
pelataran Alun-alun Utara setiap digelarnya acara Sekaten dan Grebeg Maulud.
“Tadi malam saya merebus 13 kilo telur. Ini tinggal sedikit” katanya sembari
menunjukkan sisa beberapa butir telur.
Harga sebutir telur
tidaklah mahal, hanya Rp 3000,00. Pembeli jajanan Telur Merah biasanya adalah
anak-anak. Seperti wisatawan cilik dari Jakarta bernama Putra yang didampingi
ayahnya, Ia memborong lima telur dari mbah Wardi dan akan dijadikan sebagai oleh-oleh.
Jajanan Telur Merah
memang cocok sebagai oleh-oleh. Biasanya, panganan ini disajikan berupa butiran
telur yang direbus berwarna merah yang ditusuk dengan ruasan bambu lalu dihias
dengan kertas. Secara filosofi, Telur Merah dimaknai dengan kelahiran dan ruas
bambu sebagai hubungan vertikal manusia dengan Tuhan.
Selasa, 08 Oktober 2013
SEJARAH OMAH DOME
Sabtu tanggal 27
Mei 2006 rakyat Indonesi kembali berduka dengan terjadinya musibah gempa bumi
6,7 sr yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta di pagi hari. Gempa bumi
yang terjadi pukul 05:59 WIB ternyata mengakibatkan kerusakan yang sangat
hebat, banyak sekali rumah-rumah penduduk yang rata dengan tanah, banyak sekali
masyarkat yang kehilangan harta benda, tak terkecuali bangunan-bangunan instansi
milik pemerintah, sekolah-sekolah dan fasilatas umum lainya ikut hancur, bahkan ribuan nyawa melayang akibat terkena
reruntuhan bangunan rumah mereka, banyak yang kehilangan sanak keluarga, orang
tua dan anak sendiri.Bencana gempa bumi ini memang meninggalkan kesedihan yang
sangat mendalam.
Disuatu daerah diYogyakarta timur,
di Kecamatan Prambanan, tepatnya di Dusun Sengir,Kalurahan Sumberharjo,
terdapat sebuah perkampungan kecil di lereng perbukitan namanya Dusun Nglepen
tak luput dari bencana gempa bumi ini. Bahkan disini sangat parah sekali karena
akibat dari bencana ini, perkampungan ini tidak bisa ditempati lagi. Karena
tanah diperkampungan ini mengalami amblas, retak-retak dan longsor. Para
penduduknya segera mingungsi ketempat-tempat yang lebih aman. Akibat dari gempa
bumi ini penduduk disini tidak hany kehilangan tempat tinggal tapi tanah
kelahirannyapun tidak bisa ditempati lagi. Sungguh keadaan yang sangat
menyedihkan.
Setelah empat bulan lamanya penduduk
disini tinggal ditenda akhirnya ada kabar yang menggembirakan dari pihak
pemerintah, bahwa masyarakat disini akan direlokasi di tempat yang sangat aman.
Akhirnya pada bulan September 2006 penduduk disini mendapat bantuan rumah dari Lembaga
Masyarakat Non Pemerinta di Amerika Serikat, yang bentukanya sangat unik yaitu
rumah Domes atau rumah iglo atau yang lebih dikenal oeleh masyarakat dengan
sebutan rumah teletubis karena bentuk rumahnya yang bulat seperti rumah
teletubis.
Pada
bulan September 2006 ini pula, proyek pembangunan rumah tersebut dimulai.
Rumah-rumah Domes untuk masyarakat Nlepen ini dibangun diatas tanah kas Desa
Sumberharjo. Pembangunan rumah Domes ini selesai pada bulan April 2007. Dan
diresmikan pada tanggal 29 April 2007 oleh Menteri Pemukiman Hidup yaitu Bapak
Prof. Dr. Alwi Sihab. Setelah diresmikan dan diserahkan ke masyarakat maka
mulai sejak itu rumah Domes ini boleh ditempati oleh warga Nglepen. Selanjutnya
atas kehendak LSM tersebut perkampungan ini diberi nama NEW NGLEPEN. Karena
bentuknya yang bulat akhirnya terkenal dengan sebutan Domes New Nglepen atau
Teletubis
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
